Kementerian ESDM Luncurkan 8000 Biogas Rumah

Renewable Energy Events

Ocean Energy News

Tampilkan postingan dengan label Renewable Energy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renewable Energy. Tampilkan semua postingan

Asia, the U.S. and the New Energy Race

(Energy Neilcy). Asian powers are winning the competition to dominate New Energy, a 21st century version of the Space Race in which the U.S. beat the USSR to the moon. And the governments of China, Japan and South Korea are aggressively outspending the U.S. on research, development and deployment by at least 3-to-1 to extend their superiority while the U.S. stumbles over policy inaction and fades.
Even if the best proposals now working their way through Congress become law, the U.S. will invest no more than $172 billion in the next 5 years while China alone will invest $397 billion in New Energy.
Those are the findings of Rising Tigers, Sleeping Giant: Asian Nations Set to Dominate the Clean Energy Race By Out-Investing the United States, by Breakthrough Institute and the Information Technology and Innovation Foundation. It presents 5 core findings.
The 5 core findings:
(1) The U.S. is already losing the new Space Race-like competition and the 3-to-1 Asian spending advantage planned for the next 5 years will set them up to lure trillions in private sector investments. The U.S. may grab some joint venture fruits of their growth but the Asian powerhouses will reap the largest bounty in jobs, tax revenues, and indirect benefits.
(2) The government spending for New Energy research, development and deployment (RD&D) in Asia will generate economies of scale, learning-by-doing, and innovations that will spawn new infrastructure and new economic leverage.
(3) If the U.S. allows the New Energy “spending gap” to continue, it will lose the equivalent of a new Space Race and become a New Energy importer which will, in turn, hamper its short-term economic recovery and its long-term competitiveness.
(4) The present House and Senate energy and climate bills are inadequate to get the U.S. back into the Race, lacking funding for RD&D to match the rising Asian New Energy powers.
(5) If the U.S. hopes to remain competitive, it must not rely on the private sector and “small, indirect and uncoordinated incentives” but must commit to “large, direct and coordinated” federal investment.

Source :
http://www.renewableenergyworld.com/rea/blog/post/2009/11/asia-the-u-s-and-the-new-energy-race

READ MORE - Asia, the U.S. and the New Energy Race

Potensi Limbah Biomassa Sawit sebagai Sumber Energi Terbarukan

(Energy Neilcy).Gejolak yang muncul akibat keputusan pemerintah menaikkan harga BBM memunculkan kesadaran bahwa selama ini bangsa Indonesai sangat tergantung pada sumber energi tak-terbarukan. Cepat atau lambat sumber energi tersebut akan habis. Salah satu solusi mengatasi permasalahan ini adalah dengan mengoptimalkan potensi energi terbarukan yang dimiliki bangsa ini.

Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi terbarukan sebesar 311.232 MW, namun kurang lebih hanya 22% yang dimanfaatkan. Masyarakat Indonesia terlena dengan harga BBM yang murah, sehingga lupa untuk memanfaatkan dan mengembangkan sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui. Sumber energi terbarukan yang tersedia antara lain bersumber dari tenaga air ( hydro ), panas bumi, energi cahaya, energi angin, dan biomassa.

Potensi energi tarbarukan yang besar dan belum banyak dimanfaatkan adalah energi dari biomassa. Potensi energi biomassa sebesar 50 000 MW hanya 320 MW yang sudah dimanfaatkan atau hanya 0.64% dari seluruh potensi yang ada. Potensi biomassa di Indonesia bersumber dari produk samping sawit, penggilingan padi, kayu, polywood, pabrik gula, kakao, dan limbah industri pertanian lainnya.

Proses pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil (CPO) menghasilkan biomassa produk samping yang jumlahnya sangat besar. Tahun 2004 volumen produk samping sawit sebesar 12 365 juta ton tandan kosong kelapa sawit (TKKS), 10 215 juta ton cangkang dan serat, dan 32 257 – 37 633 juta ton limbah cair ( Palm Oil Mill Effluent /POME). Jumlah ini akan terus meningkat dengan meningkatnya produksi TBS Indonesia. Produksi TBS Indonesia di tahun 2004 mencapai 53 762 juta ton dan pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 64 000 juta ton.

Biomassa dari produk samping sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan. Salah satunya adalah POME untuk menghasilkan biogas. Potensi produksi biogas dari seluruh limbah cair tersebut kurang lebih adalah sebesar 1075 juta m 3 . Nilai kalor ( heating value ) biogas rata-rata berkisar antara 4700–6000 kkal/m 3 (20–24 MJ/m 3 ). Dengan nilai kalor tersebut 1075 juta m 3 biogas akan setara dengan 516 _ 000 ton gas LPG, 559 juta liter solar, 666.5 juta liter minyak tanah, dan 5052.5 MWh listrik. TKKS dapat juga dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas walaupun proses pengolahannya lebih sulit daripada biogas dari limbah cair.

Potensi energi yang dapat dihasilkan dari produk samping sawit yang lain dapat dilihat dari nilai energi panas (calorific value ). Nilai energi panas untuk masing-masing produk samping sawit adalah 20 093 kJ/kg cangkang, 19 055 kJ/kg serat, 18 795 kJ/kg TKKS, 17 471 kJ/kg batang, dan 15 719 kJ/kg pelepah.
Cangkang dan serat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam PKS. Cangkan dan serat digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk memenuhi kebutuhan steam (uap panas) dan listrik. Potensi energi dari seluruh cangkang dan serat di tahun 2004 adalah sebesar 6 451 juta MW.

TKKS juga memiliki potensi energi yang besar sebagai bahan bakar generator listrik. Sebuah PKS dengan kapasitas pengolahan 200000 ton TBS/tahun akan menghasilkan sebanyak 44000 ton TKKS (kadar air 65%)/tahun. Nilai kalor ( heating value ) TKKS kering adalah 18.8 MJ/kg, dengan efisiensi konversi energi sebesar 25%, dari energi tersebut ekuivalen dengan 2.3 MWe ( megawatt-electric ). Total TKKS sebanyak 12365 juta ton di tahun 2004 berpotensi menghasilkan energi sebesar 23463.5 juta MWe.

***

Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan produk samping sawit sebagi sumber energi terbarukan. Kelapa sawit Indonesia merupakan salah satu komoditi yang mengalami pertumbuhan sangat pesat.

Pada periode tahun 1980-an hingga pertengahan tahun 1990-an luas areal kebun meningkat dengan laju 11% per tahun. Sejalan dengan luas area produksi CPO juga meningkat dengan laju 9.4% per tahun. Sampai dengan tahun 2010 produksi CPO diperkirakan meningkat dengan laju 5-6% per tahun, sedang untuk periode 2010 – 2020 pertumbuhan produksi berkisar antara 2% - 4%.

Pengembangan produk samping sawit sebagai sumber energi alternatif memiliki beberapa kelebihan. Pertama , sumber energi tersebut merupakan sumber energi yang bersifat renewable sehingga bisa menjamin kesinambungan produksi. Kedua , Indonesia merupakan produsen utama minyak sawit sehingga ketersediaan bahan baku akan terjamin dan industri ini berbasis produksi dalam negeri.

Ketiga , pengembangan alternatif tersebut merupakan proses produksi yang ramah lingkungan. Keempat , upaya tersebut juga merupakan salah satu bentuk optimasi pemanfaatan sumberdaya untuk meningkatkan nilai tambah.

***

Indonesia relatif tertinggal dalam mengembangkan teknologi energi alternatif dari produk samping sawit dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Sejak tahun 2001 Malaysia melaksanakan program pengembangan energi terbarukan yang disebut dengan Small Renewable Energy Programe ( SREP ). Salah satu energi terbarukan yang dikembangkan dalam program SREP ini adalah pengembangan biogas dari POME. Bumibiopower (Pantai Remis) Sdn. Bhd. adalah salah satu perusahaan di Malaysia yang melaksanakan proyek untuk mengembangkan pabrik produksi biogas dari POME. Bekerjasama dengan

Malaysia bekerjasama dengan COGEN mengembangkan teknologi generator listrik dengan bahan bakar produk samping sawit. Proyek pemanfaatan produk samping sawit sebagai bahan bakar listrik dilaksanakan oleh TSH Bio Energy Sdn Bhn di Sabah, Malaysia . Kapasitas listrik yang dihasilkan adalah sebesar 14 MW.

Melalui Kep.Men. No. 1122 K/30/MEM/2002 tentang Distribusi Pembangkit Listrik Skala Kecil, Indonesia mulai mengembangkan energi terbarukan. Pada tahun 2002 sangat gencar dikampanyekan penggunaan gas pada kendaraan bermontor. Namun, kemudian tak terdengar lagi kabarnya sekarang.

Tahun 2005 Indonesia mendapatkan bantuan sebesar $ US 500.000 dollar dari ADB (Bank Pembangunan Asia) untuk mengembangkan energi terbarukan dari limbah cair kelapa sawit (Kompas, 27 Desember 2004).

Teknologi yang sudah berhasil dikembangkan di Indonesia adalah pembuatan briket arang dari cangkang dan serat sawit. Produk briket yang dihasilkan telah memenuhi Standart Nasional Indonesia (SNI). Kelebihan lainnya dari briket ini adalah permukaanya halus dan tidak meninggalkan bekas hitam di tangan.

***

Pengembangan biomassa kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif yang terbarukan harus dibarengi dengan pengembangan teknologi-tenologi lainnya. Misalnya adalah pengembangan kendaraan berbahan bakar gas dan listrik. Selain bersifat terbarukan ( renewable ) penggunaan bahan bakar gas dan listrik lebih ramah lingkungan dari pada BBM. Teknologi ini sudah banyak dipakai di negara-negara Eropa, seperti Jerman, Autria, dan Amerika. Bahkan di India sudah banyak bis-bis kota yang berbahan bakar gas.

Belajar dari pengalaman tahun 2002, jangan terulang lagi kampanye bahan bakar gas yang hanya sesaat. Pengembangan energi alternatif dari sumber-sumber yang dapat diperbaharui adalah suatu keharusan. Kesungguhan dan keseriusan pemerintahan SBY dalam hal ini sangat diharapkan.

Sumber :http://www.ipard.com/art_perkebun/apr11-05_isr+edw.asp


READ MORE - Potensi Limbah Biomassa Sawit sebagai Sumber Energi Terbarukan

Biomethane as an Energy Carrier - superior to electricity

(Energy Neilcy). Methane is a better long-distance energy carrier than electricity. Its storage and transportation is much cheaper and easier than electricity. Natural gas pipelines cost half as much to build as electric towers and have about one fourth as much transmission loss. They are also more reliable, safer and visually superior to ugly transmission towers.

Building a hydrogen infrastructure now would be folly. Biomethane can do the job now and will be cleaner and cheaper.

Our electrical grid is only 30% efficient in delivering the energy in fuel burned to the customer. That efficiency could be doubled or even tripled if we used combined heat and power (CHP) generators located where heat is needed. By using the generator's waste heat, an efficiency of 85% is possible. Clearly it is smarter to expand our gas pipeline network than to build more electrical towers to distribute inefficiently generated electricity from massive power plants.

Even though most of our natural gas is now fossil fuel, a doubling of efficiency would be just as effective as achieving 50% renewable power as far as global warming is concerned. We can simultaneously work on greening our gas supply by feeding more and more biomethane into the pipeline. In Germany 22 billion kWh of biogas were produced in 2007. That's a six-fold increase from 1999, driven partly by feed-in tariffs. About half of that biomethane was from landfill and sewage gas and the other half was from commercial and agricultural biomass plants. Renewable biogas is produced by natural processes of anaerobic digestion or gasification then cleaned up for sale to the gas pipeline. Sweden already gets 25% of their energy from biogas.
Energy storage is another big advantage of gas. Both the gas and the electricity grids need energy storage to take up the slack between production and consumption. Gas storage is cheap because it can simply be pumped into depleted gas wells and salt caverns. We are already storing 4.1 Tcf of gas in the US. At 85% efficiency that gas could produce 1,180 gigawatt-hours of useful power on demand. A very cheap battery! The smart electrical grid is all about making supply match demand because electrical storage is so expensive.

Though the U.S. power grid uses significant hydro power and other renewables, CO2 emissions are still almost twice as much per kilowatt-hour as a 60% efficient natural gas fuel cell. In 2007 the U.S. power grid emitted 605 grams/kWh. The fuel cell emits only 340 grams. EIA data makes it easy to track the effects of our attempts to green the electric grid: In 1996 we emitted 627 grams of CO2 per kWh and by 2007 this was reduced to 605 grams. That’s a 2-gram per year decrease. If we continue at that rate, it will take 139 years to equal what we can do now with a fuel cell. Recent years show even less progress. There was no improvement between 2006 and 2007. Plugging into the grid is, unfortunately, a bit like plugging into a lump of coal.

People have already begun selling renewable gas into the pipeline. Landfills, manure piles and sewage plants that used to release significant amounts of methane into the atmosphere are now selling it as green gas. Biomass and garbage can also be gasified to add to the supply. The energy balance of Grass Biomethane production is 50% better than annual crops now used. When biogas is captured instead of releasing it to the atmosphere we get a double bonus. Methane is 72 times worse than CO2 as a cause of global warming in a 20-year time frame. You may have heard 25 times, but that's based on a 100-year time frame. Methane only persists about 8 years. Also, when manure piles are covered, N²O, which is 289 times worse than CO², can also be captured. Coal mines emit almost a trillion cubic feet of methane into the atmosphere every year.

In Cincinnati, Ohio, the 230-acre Rumpke landfill has been capped and the gas is cleaned and delivered to the pipeline to provide enough gas for 25,000 Duke Energy customers. China has an estimated 31 million biogas digesters mostly on small farms. They produce in total about 9 Gigawatts of renewable energy which is mostly used locally. Germany, Denmark, Sweden, Finland and now Ontario, Canada have feed-in tarrifs to encourage production of biogas. In Germany small farms can receive up to 25 cents per kWh for biopower. In the US, bills like SB306 that support biogas production, are still stuck in committee.

Increased system efficiency means we will need less of these renewable sources to do the job. If we’re going to gasify biomass, it is more efficient to upgrade the gas and send it through the gas grid to customer CHP units than to generate electricity less efficiently and send it over less efficient, more expensive power lines to the customer. Until we get more efficient electrical generators, generation should always be done where the waste heat can be put to good use.

Electric cars would be twice as efficient if they fueled up with natural gas and used a fuel cell to recharge a small battery. Like a hybrid with a natural gas fuel cell range extender. The expense and weight of a large battery is eliminated and the energy can be stored in a much lighter and cheaper tank. Refuelling can be much faster and could even be done at home from your natural gas connection. New, low pressure, adsorption tanks make this easy because they only require 500 psi of pressure. Recharging is a problem with batteries. A 110v, 20A household plug can only supply 2.2 kW, which means that 10 hours of home charging will only take you 10 x 2.2 x 4 mi/kW = 88 miles. Natural gas refueling infrastructure is in place in much of the world to refuel five million vehicles worldwide.

We already have prototype hydrogen cars that work on a similar principle but hydrogen has virtually no refueling infrastructure. Hydrogen is very expensive to produce, store and transport. Its tiny molecules find the smallest leaks and fly into space. They embrittle pipeline metals by nestling into the metal matrix. Storage is extremely inefficient, requiring extremely high pressure tanks or cryonic vessels. One giant hydrogen delivery truck can service about ten customers. Methane has one carbon atom that holds four hydrogen atoms in a tight formation making containment and dense storage easy. A gallon of liquid methane actually holds 2.5 times as much hydrogen as a gallon of liquid hydrogen!

"No carbon emissions" sounded like a great idea but 95% of our hydrogen is made from natural gas and that process emits about 30% more CO² than if we simply burned the methane. Yes, you can make hydrogen from water with electricity (at about 70% efficiency.) But you can also make carbon-negative methane from CO² and hydrogen. When you burn it, the net result is carbon neutral. The “carbon-free” cleanness of hydrogen is an illusion. Building a hydrogen infrastructure now would be folly. Biomethane can do the job now and will be cleaner and cheaper.

Source :http://cleanenergy.multiply.com/journal/item/127

READ MORE - Biomethane as an Energy Carrier - superior to electricity

Top 5 Renewable Energy Mutual Funds

(Energy Neilcy). The top 5 renewable energy mutual funds offer a way for investors to invest in mutual funds with a green approach. These money manager recommended mutual funds invest in renewable energy companies. The top five of the alternative energy mutual funds would include Winslow Green Growth Fund, New Alternatives Fund, PowerShares WilderHill Clean Energy Portfolio, Guinness Atkinson Alternative Energy Fund, and Calvert Global Alternative Energy Fund.
Renewable Energy Companies

1. Winslow Green Growth Fund

Winslow Green Growth Fund, symbol WGGFX, is one of the best long term mutual funds to have in your portfolio. This fund invests primarily in American small cap growth companies. The goal of this fund is to include alternative energy investments and companies that are not detrimental to the environment. This mutual fund does not specialize only in alternative energy investments, but rather has a green approach. Companies are included in the portfolio that may not help the environment but also do no harm. The fund looks at the environmental impact of the company and the history of their environmental profile, as well as all the other evaluation factors, before deciding whether to include a company or investment in the portfolio.
Aggressive Growth Funds

2. New Alternatives Fund

New Alternatives Fund, symbol NALFX, is also one of the best long term mutual funds. This aggressive growth fund makes investments in all company sizes, from small cap to large cap, and includes companies from all over the globe. Only companies which make a positive impact environmentally are included in this fund portfolio, and at least twenty five percent of the portfolio consists of renewable energy companies. This recommended mutual fund also includes investments in pollution prevention, clean water and air, and conservation efforts, making it a very environmentally friendly mutual fund to invest in. The high percentage of renewable energy companies included can mean healthy growth in the future.
3. PowerShares WilderHill Clean Energy Portfolio

PowerShares WilderHill Clean Energy Portfolio, symbol PBW, is one of the recommended mutual funds as well. This fund follows the WilderHill Clean Energy Index, and includes a portfolio of thirty six stocks that are in renewable energy companies using clean energy technology. This fund will benefit greatly if president elect Obama actually moves America towards alternative renewable energy sources. All of the investments in the portfolio for this fund are used for clean energy stocks. This mutual fund is one of the most environmentally friendly of all the aggressive growth funds, because only companies using clean energy technology that is renewable are included.
Best Long Term Mutual Funds

4. Guinness Atkinson Alternative Energy Fund

Guinness Atkinson Alternative Energy Fund, symbol GAAEX, is managed by Tim Guinness, and this fund believes in renewable energy companies. The management of the fund is done using long term capital appreciation strategies. Alternative energy companies which receive more than half of the revenue generated from alternative energy technologies are included inn the portfolio, which holds between forty and sixty investments at any time. This fund is considered riskier than most, because there is a lack of diversification and because foreign securities are included.
Renewable Energy Index Funds

5. Calvert Global Alternative Energy Fund

Calvert Global Alternative Energy Fund, symbol CGAEX, is the last of the five recommended mutual funds. This fund has more than one hundred and forty million dollars in assets, but may be more volatile than many other mutual funds because foreign investments outside the United States are included in the fund portfolio. This is one of the aggressive growth funds, so the possible rewards are also greater. This fund invests in renewable energy companies in every market cap level, from small to large. Generally at least eighty percent of the net assets will be invested into renewable energy companies. This means this fund is not very well diversified either, but many investors want to invest in alternative energy technology without diversity, making this fund one of the top five.

Source :http://www.bionomicfuel.com/top-5-renewable-energy-mutual-funds/

READ MORE - Top 5 Renewable Energy Mutual Funds

Tahun 2020, RI Importir Energi Besar Dunia

(Energy Neilcy).Pada 2020, Indonesia diprediksi menjadi salah negara di dunia pengimpor energi terbesar jika masih masih mengandalkan sumber energi konvensional, kata Kepala BATAN Hudi Hastowo, Sabtu.

"Sistem pembangkit listrik kita saat ini masih banyak tergantung kepada penggunaan batu bara, minyak dan gas sebagai sumber energinya," katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan energinya, Indonesia telah mengimpor bahan bakar minyak (BBM) 350 ribu barel per hari, dan subsidi yang dikeluarkan mencapai Rp70 triliun.

"Kondisi seperti ini apabila tidak dicarikan alternatif lainnya untuk memenuhi energi ini jelas akan sangat berat," katanya.

Berbagai alternatif dalam rangka memenuhi kebutuhan energi nasional telah diambil pemerintah, diantaranya pemanfaatan energi baru dan terbarukan.

Salah satunya adalah energi nuklir, meskipun rencana pemanfaatannya masih telatif sedikit.

"Program nuklir semata-mata jangan hanya dilihat segi negatifnya, tetapi juga harus dilihat positifnya," kata Hudi.
BATAN sendiri telah merekomendasikan tiga tempat di Ujung Lemah Abang, Ujung Watu dan Ujung MUria di Kabupaten Jepara, Jawa Tengahm, sebagai situs pengembangan energi alternatif, listrik tenaga nuklir.

"Di Jepang salah satu negera yang sangat rawan gempa saja memiliki 55 pusat listrik tenaga nuklir (PLTN). Nantinya Indonesia juga akan seperti Jepang. Untuk itu mulai sekarang harus terus menyiapkan diri menangani masalah ini," katanya.

BATAN, terangnya, sedang mengajukan ususlan ke Badan Nuklir Dunia untuk melakukan pengecekan dan kesiapan mengenai pembangunan listrik bertenaga nuklir.


Sumber :http://www.antara.co.id/berita/1255758043/tahun-2020-ri-importir-energi-besar-dunia


READ MORE - Tahun 2020, RI Importir Energi Besar Dunia

Kuliah Umum Presiden Direktur Pt.Shell Indonesia: Tantangan Energi dan Perubahan Iklim

(Energy Neilcy).Setidaknya ada tiga kenyataan pahit (hard truth) saat ini, yaitu kebutuhan energi akan berlipatganda di tahun 2050, pasokan energi akan sulit mengimbangi permintaan, dan level CO2 yang tidak sustainable di atmosfer. Begitulah kutipan kuliah umum yang disampaikan Darwin Silalahi, presiden direktur dan country chairman Pt.Shell Indonesia, Sabtu (03/10/09), Auditorium SBM ITB.Selain hal diatas, Darwin menjelaskan pula mengenai skenario energi Shell sampai tahun 2050 yang ia sebut sebagai era perubahan revolusioner di bidang energi.

"Business as usual" dari sektor industri berat, jasa, residensial, agrikultur dan industri lain, transportasi, dan penggunaan non-energi (misalnya petrochemical) diperkirakan akan mengkonsumsi energi dua kali lipat di tahun 2050.Di lain sisi, pasokan energi akan sulit mengimbangi permintaan sektor-sektor tersebut. Minyak dan gas setelah tahun 2015 diperkirakan akan tidak lagi mudah didapat dan tidak bisa mengimbangi permintaan pasar; penggunaan batubara akan meningkat tetapi terhalang oleh terbatasnya logistik; perkembangan nuklir terhalang oleh politik, dan pembangunan 3 industri yaitu penambangan uranium, engineering, procurement and construction contract (EPC), dan manajemen limbah; biofuel terhalang oleh keterbatasan lahan subur; dan energi alternatif yang memerlukan waktu lama untuk meningkat.Selain itu,"Business as usual" dapat diartikan CO2 dari penggunaan energi akan mencapai 65 Gt/tahun di tahun 2050. Dan di akhir abad, temperatur global dapat melonjak hingga 6 derajat Celcius diatas level pra-industri.
Dalam skenario pembangunan, Shell's World Energy Model mempertimbangkan kompleksitas dan interaksi diantara sistem energi.Terdapat dua skenario, yaitu blueprints dan scramble. Skenario Scramble merupakan pendekatan reaktif dimana pertama-tama akan fokus pada peningkatan supply energi kemudian menghadapi konsekuensi setelahnya.Keamanan pasokan dan ketakutan akan hilangnya perkembangan ekonomi menjadi driving force bagi negara superpower ekonomi dunia, di lain sisi negara-negara ekonomi menengah memilih untuk memanfaatkan sumber energi yang ada di negara tersebut sekaligus membuka lapangan kerja. Nasionalisasi energi, menjadi konsekuensi dari energi mix. Dalam konsep scramble, fokus ditetapkan pada keamanan pasokan nasional, akses pasokan, dan kemandirian.Bersifat berurutan, lambat, dan tidak tentu dalam merespon hard truth. Harga energi akan menjulang tetapi tidak ada harga bagi karbon. Batubara dan biofuel menjadi perhatian, dan fokus pada infrastruktur.Sedangkan pada skenario blueprints, awareness mengenai tantangan di semua level tidak terikat di level nasional. Respon terhadap hard truth merupakan respon yang paralel, di-hargai-nya karbon dibangun lebih awal, efisiensi dan elektrifikasi menjadi perhatian, dan pembangunan infrastruktur baru misalnya Carbon Capture Storage(CCS).

Pendekatan yang lebih diutamakan Shell, yakni pendekatan blueprints. Blueprints menawarkan harapan besar terhadap masa depan yang sustainable. Strategi yang saat ini diterapkan Shell diantaranya Efisiensi energi seperti efesiensi operasi dan mengurangi emisi, serta manajemen CO2 yang meliputi mengembangkan kemampuan dalam CCS, Reserach&Development dalam bidang teknologi, membangun sumber energi yang rendah CO2, dan membentuk regulasi yang lebih efektif.

Sumber :http://www.itb.ac.id/news/2609.xhtml


READ MORE - Kuliah Umum Presiden Direktur Pt.Shell Indonesia: Tantangan Energi dan Perubahan Iklim

Hambatan & kondisi ideal pengembangan energi terbarukan

(Energy Neilcy).Di banyak negara berkembang termasuk Indonesia sumber energi terbarukan (ET) merupakan sumber energi yang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Suplay energi yang berasal dari sumber ET sudah mencapai angka 13.5% dari total kebutuhan energi dunia. Dimana 77.5% suplay ET berasal dari negara berkembang & negara sedang berkembang namun angka ini diperoleh dari hydropower & biomass tradisional (arang dan kayu bakar) yang jumlahnya mencapai 90% dari produksi ET (IEA, 2003). Jika ditinjau dari dampak sosial dan ekologi maka pemanfaatan kedua sumber ET ini harus mendapatkan perhatian lebih serius. Penggunaan biomass tradisional dapat menyebabkan polusi di dalam ruangan dan juga di luar ruangan dan juga dapat menyebabkan penyakit ispa bagi penggunanya. Sedangkan penggunaan hydropower dalam skala besar menyebabkan pengaturan kembali aliran air, pengaturan kembali populasi setempat, pengaturan habitat sekitar dan pengrusakan ”biodiversity”. Pemanfaatan sumber ET yang dampaknya sangat kecil terhadap lingkungan dan struktur sosial disebut dengan teknologi energi terbarukan modern seperti energi angin, matahari, geothermal, modern biomass, micro hyro dan energi laut.

Pemanfaatan teknologi energi terbarukan modern saat ini lebih banyak dimanfaatkan di negara-negara industri dengan persentase sebesar 85% dan negara berkembang yang memiliki potensi ETlebih besar hanya menyumbang 15% dari total pemanfaatan ET dunia. Danyel Reiche (2004) menyebutkan beberapa kendala utama dalam pemanfaatan sumber ET dan juga menyebutkan beberapa hal yang dibutuhkan agar pemanfaatan sumber ET dapat cepat dilaksanakan.

1. Hambatan

Hambatan dalam konteks ini adalah faktor yang mempersulit atau menghalangi difusi teknologi ET yang dibedakan menjadi empat kelompok yaitu (i). Teknologi, (ii). Keuangan, (iii). kognitif, dan (iv). Kelembagaan.

§ Teknologi

Hambatan teknologi disini terkait dengan keadaan goegrafi & cuaca dimana dibutuhkan kesesuaian antara teknologi dengan kedua hal tersebut. Selain itu, rendahnya kualitas beberapa teknologi ET yang diproduksi oleh beberapa negara menyebabkan kekecewaan dikalangan pengguna. Pengalaman kegagalan proyek pemanfaatan sumber ET memberikan gambaran yang negatif di masyarakat, dunia industri dan pengguna lainnya sehingga antusiasme untuk memanfaatkan teknologi ET hingga saat ini belum terlihat secara signifikan.

§ Keuangan

Hambatan finansial merupakan faktor penting dalam penyebaran ET di negara berkembang. Harga teknologi ET yang belum kompetitif dibandingkan harga teknologi energi tidak terbarukan menyebabkan perkembangan teknologi ET menjadi lambat dan cenderung statis. Selain itu bea import teknologi & komponen ET menyebabkan harga jual spare part menjadi mahal. Terlebih, skema pemanfaatan teknologi ET banyak dilakukan di wilayah pedesaan yang mayoritas penduduknya berpenghasilan rendah sehingga harga beli komponen teknologi ET belum menjadi prioritas masyarakat miskin.
§ Kognitif

Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan pengguna ET yang dalam hal ini telah dikecewakan oleh teknologi ET. Timbulnya ketidakpercayaan terhadap teknologi ET dikalangan awam baik untuk rumah tangga, dunia usaha, perusahaan pensuplay listrik dan pemerintah dikarenakan teknologi ET tidak berfungsi dengan baik atau perawatan purna jual yang sangat buruk. Hal ini terjadi karena minimnya informasi mengenai ET dilapangan (grees road) terutama di negara berkembang yang memiliki projek pemanfaatan ET. Tidak adanya perawatan setelah instalasi disebabkan karena beberapa hal yang salah satunya akibat kurangnya tenaga ahli di lapangan. Secara umum, pertimbangan akan keuntungan dan karakteristik ET masih sangat kurang. Hal ini terlihat dari minimnya jumlah rumah tangga atau dunia usaha yang memperhitungkan sumber ET dalam sumber energi kebutuhan rumah tangga atau usaha. Selain itu, masih banyak pemikiran pemanfaatan sumber ET dalam skala besar yang jika disesuaikan dengan potensi alam & populasi penduduk tidak direkomendasikan. Hal ini dapat juga disebabkan karena pengalaman akan proyek ET masih sangat sedikit, minimnya data mengenai potensi sumber ET sehingga kajian pemanfaatan sumber ET belum dapat dilakukan secara maksimal.

§ Kelembagaan

Kelembagaan dalam hal ini adalah kelembagaan dalam arti luas yang terdiri dari organisasi kelembagaan dan market dari sektor energi. Dorongan secara kelembagaan baik dari sisi perusahaan, pemerintah dan lembaga ET harus menjadikan ET sebagai teknologi kreatif dalam mensiasati suplay energi terkait kebutuhan infrastruktur dasar masyarakat. Disamping itu, landasan hukum yang kuat memberikan jaminan bagi pelaku industri untuk menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam upaya menerapkan teknologi ET. Skema pengembangan sistem ET yang mengarah pada wilayah pedesaan khususnya hanya sebagai suplay listrik menjadikan nilai keekonomisan teknologi ET tidak dapat dicapai. Terlebih jika negara tersebut tidak memiliki lembaga yang menentukan standar aplikasi teknologi ET.

Pengembangan aplikasi teknologi ET di daerah pedesaan secara ekonomis mengarah pada biaya transaksi yang tinggi, memiliki gap informasi yang cukup besar, kurangnya personil yang terampil dan akses ke pelanggan yang sulit. Sehingga pengkajian & penerapan teknologi ET di wilayah pedesaan membutuhkan waktu yang relatif lama.

2. Kondisi yang diharapkan

Kondisi yang diharapkan berarti kondisi tanpa adanya hambatan berarti. Kondisi ini dapat diciptakan jika kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh pemerintah mengakomodasi kepentingan seluruh stakeholders dan tetap bertanggungjawab.

§ Teknologi

Terkait dengan teknologi, kondisi yang diharapkan adalah keberadaan teknologi baik teknis maupun kualitas yang dipilih berdasarkan keadaan geografi & cuaca diwilayah proyek dan sesuai dengan kebutuhan serta sosial budaya pengguna. Intervensi pemanfaatan teknologi tidak dapat dilakukan jika potensi sekitar tidak mendukung. Seperti pembuatan stasiun pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) tanpa melakukan analisa data sehingga akan tejadi ketidaknyamanan atau kegagalan suplay energi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan pemanfaatan teknologi ET hingga mencapai nilai keekonomisan. Pemanfaatan technology discrete system akan lebih efisien dari sisi teknologi, biaya, perawatan dan lahan yang digunakan sehingga teknologi yang dipilih adalah teknologi ET yang sesuai dengan potensi sumber ET setempat & digunakan sesuai dengan kapasitas yang ada & sesuai dengan kebutuhan prioritas masyarakat sekitar. Tinjauan akan suksesnya pemanfaatan teknologi ini dapat ditentukan dari penggunaan standar yang telah ditentukan, kesesuaian teknologi dengan geografis wilayah dan tetap berfungsinya teknologi tersebut hingga waktu yang telah ditentukan.

§ Keuangan

Salah satu skema pendanaan pemanfaatan teknologi ET adalah dengan tersedianya skema kredit teknologi ET. Beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Savordaya di Sri Lanka atau Grameen Shakti di Bangladesh yang memperoleh dana hibah dari lembaga donor membuat skema kredit pemanfaatan teknologi ET. Pengalaman dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa hidah teknologi ET dari lembaga donor ke masyarakat pengguna menyebabkan program gagal. Hal ini dikarenakan tidak ada rasa kepemilikan masyarakat pengguna dan tidak adanya perawatan teknologi hibah tersebut. Disisi lain, pemerintah juga dapat menerapkan sistem subsidi yang sama dengan sumber energi fosil, perusahaan sumber energi fosil wajib memberikan dana CSR pada pengembangan pemanfaatan sumber ET. Tidak kalah pentingnya adalah insentif & bebas bea impor bagi teknologi & komponen teknologi ET sehingga daya saing antara teknologi energi tidak terbarukan dan teknologi ET akan semakin kompetitif.

§ Kognitif

Kondisi kognitif yang baik adalah populasi yang menghargai dan memberikan informasi mengenai keuntungan dan resiko teknologi ET. Sektor rumah tangga telah dapat mengakses manfaat teknologi ET yang penentuannya telah dikonsultasikan pada konsultan ET yang dapat memberikan saran-saran terkait pemanfaatan teknologi ET. Sektor usaha telah memiliki akses terhadap informasi yang dibutuhkan mengenai kemampuan teknis teknologi ET dan pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada pemanfaatan teknologi ET. Kondisi ini dapat dicapai jika informasi mengenai ET telah terbuka secara lebar, intensitas diskusi antara stakeholders ET semakin berpihak terhadap partisipasi masyarakat umum sebagai pengguna dan adanya jaminan pencapaian nilai keekonomisan teknologi ET. Projek internasional yang merupakan media transfer teknologi & pengetahuan dari negara industri ke negara berkembang terus dilakukan dalam upaya peningkatan kualitas SDM energi terbarukan. Tidak kalah pentingnya lagi adanya integrasi antara pemanfaatan teknologi ET dan pengembangan sistem pendidikan yang bermuatan teknologi ET dan promosi teknologi ET di dunia pendidikan.

§ Kelembagaan

Terdapat beberapa hal kelembagaan yang menjadi penentu kesuksesan pemanfaatan ET di negara berkembang. Hal mendasar yang sudah banyak dilakukan adalah memasukkan ET dalam kebijakan energi. Beberapa contoh negara berkembang yang sudah memasukkan ET dalam kebijakan energi adalah China (5% ET hingga tahun 2010), India (10% ET hingga tahun 2012), Pakistan (10% ET hingga tahun 2012), Tunisia (25% ET hingga tahun 2010) dan Indonesia (17% EBT hingga tahun 2025). Selain itu, kebijakan peningkatan kerjasama antara pemerintah dan swasta melalui konsep independent power producers (IPPs) harus disemakin dibuka dengan mempertimbangkan harga jual pihak swasta ke pemerintah.

Disisi lain eksistensi organisasi swadaya masyarakat, pelaku bisnis ET dan pemerintahan memainkan peran penting dalam mempromosikan pemanfaatan ET dan menciptakan kondisi yang lebih kondusif. Tidak kalah pentingnya dibutuhkan badan nasional yang dapat mendorong pemanfaatan ET seperti India Renewable Energy Development Agency (IREDA), Chinese Renewable Energy Industries Association (CREIA) dan New and Renewable Energy Authority (NREA) di Mesir.



Gambaran di atas memberikan penjelasan bahwa dalam upaya memfasilitasi pengembangan pasar pengguna ET maka peran pemerintah dan lembaga donor (bantuan, training dan pertimbangan bisnis) sangat penting demi tercapainya kesuksesan. Usaha yang harus dilakukan oleh stakeholders energi terbarukan adalah mencari solusi kendala-kendala yang ditemukan dan menciptakan kondisi yang kondusif demi suksesnya program pemanfaatan sumber energi terbarukan.



Daftar pustaka

1. International Energy Agency (2003). Renewables Information.

2. DR. Danyel Reiche (2004). Obstacles and Success Conditions for Renewable Energy in Developing Countries. Elsevier Ltd


Sumber :http://pijar.org/content/view/205/68/


READ MORE - Hambatan & kondisi ideal pengembangan energi terbarukan

Peta Potensi Energi Terbarukan di Dunia


(Energy Neilcy). Sekitar 90% sumber energi terbarukan sangat terpengaruh oleh cuaca. Sebut saja diantaranya adalah energi angin, matahari dan air. Di satu sisi, energi terbarukan adalah salah satu alternatif yang diharapkan dapat menggantikan ketergantungan akan energi fosil, namun ternyata energi terbarukan sendiri ternyata memiliki ketergantungan terhadap sistem yang kompleks yaitu cuaca. Bagaimana supaya kita bisa memprediksi lebih baik dimana suatu instalasi energi terbarukan akan dibangun? Atau berapa potensi produksi energi dalam periode mendatang? 3TIER menyediakan layanan perkiraan cuaca dan iklim dan bagaimana dampaknya terhadap pembangkitan energi terbarukan. Anda pun dapat menikmati layanan perusahaan ini secara terbatas dengan gratis melalui peta potensi angin dan matahari. Mau tahu caranya?

Cukup daftarkan diri anda melalu iwebsite perusahaan ini, http://3tiergroup.com/ . Selanjutnya 3TIER akan memberikan akses kepada anda secara terbatas untuk menggunakan software FirstLook yang berbasiskan Google Earth. Dengan FirstLook, anda dapat menjelajah berbagai lokasi di permukaan bumi untuk memperoleh perkiraan kecepatan angin ataupun intensitas cahaya matahari. Tampilan yang disediakan terdiri dari tampilan peta, satelit, ”terrain” dan ”hybrid”.

Tampilan peta akan menampilkan gambar sebagaimana sebuah peta, berupa gambar dua dimensi dilengkapi dengan jalan dan nama lokasi. Tampilan satelit akan memberikan gambaran seolah-olah anda berada pada ketinggian tertentu. Mode tampilan ini juga memberikan gambaran cuaca pada saat gambar diambil, apakah berawan ataukah cerah. Mode tampilan selanjutnya yaitu ”terrain” akan memberikan gambaran kepada anda tentang kondisi kontur permukaan bumi di lokasi yang anda pilih. Mode terakhir yaitu ”hybrid” merupakan gabungan dari ketiga mode tampilan tersebut
3TIER mengklaim dirinya sebagai “supply-side energy efficiency company” yang menyediakan data dan pengetahuan bagi klien untuk dapat membuat keputusan terkait dengan investasi klien di bidang teknologi energi terbarukan. Dengan menggunakan sistem permodelan komputer, para peneliti yang handal menurut informasi di website resminya, 3TIER sanggup memprediksi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang ketersediaan sumber energi terbarukan.

Didirikan pada tahun 1999, 3TIER adalah perusahaan swasta berbasis di Seattle, AS dan memiliki banyak kantor cabang di berbagai negara. Saat ini 3TIER merupakan provider independen terbesar yang menyediakan layanan penilaian dan forecasting energi terbarukan di dunia.

Pada Oktober 2008, perusahaan ini terpilih oleh the Puget Sound Business Journal sebagai salah satu dari 100 perusahaan dengan pertumbuhan tercepat di Washington. Berdasarkan penilaian atas pertumbuhan perusahaan selama tiga tahun terakhir dengan pertumbuhan pendapatan kumulatif sebesar 200%, 3TIER menempati urutan ke 24.

Menurut Kenneth Westrick, CEO dari 3TIER, pertumbuhan yang cepat ini menunjukkan minat pengembangan energi terbarukan semakin meningkat. ”lebih spesifik lagi, pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan reputasi perusahaan di mata klien untuk membantu mereka mengambil keputusan dengan menyediakan layanan informasi yang diperlukan” lanjutnya. Aw

Sumber :http://www.energiterbarukan.net/index.php?option=com_content&task=view&id=200&Itemid=80


READ MORE - Peta Potensi Energi Terbarukan di Dunia

Problem of Indonesia Renewable Energy Development


(Neilcy Info). Indonesia is a country with enormous energy resource potential. But unfortunately Indonesia still has not able to optimize its resources, especially concerning energy supply to it citizen. Some of Indonesian citizens still do not have access to electricity and the rest of it does not have any guarantee on the availability of energy supply. Sometime we should prepare candle and generator to continue our activity. Not only electricity, in some areas, it is still difficult to obtain gas needed to cook. This problem affects our productivity and it affects our economy. This problem has not been solved until now.

Using conventional energy resources makes us depend on oil and natural gas. With our oil reserve (approximately 9 Billion barrel), if we produce 500 million barrel per year we will finish our oil reserve in 18 years. In case of natural gas, our natural gas reserve can only be sufficient for 60 years. These facts show a big problem in the current energy supply system in Indonesia. Our energy supply system needs to be developed with other non conventional energy to stabilize our energy supply.

We have a lot of potential natural resources that can be used for energy supply. But unfortunately, Indonesia has not yet optimized its natural resource for energy supply. Below is a table of potential energy from natural resource data and the portion of its capacity that is already installed in Indonesia:

indonesia-energy-potential

From the data above, it can be seen that we have not yet used much of our potential natural resources for supplying energy. We still have a lot potential resource that can be used. However, we cannot yet optimally use it because obtaining energy supply through natural resources has various problems. The problems are in various aspects ranging from economic, social and policy.

Problems in each energy resources for energy supply:

Geothermal

* Exploration and development costs are very high, therefore the total investment for geothermal power is very large.
* Equipment and machinery must be imported for exploration, there are no products in the Indonesia that are suitable for this purpose.
* Development of geothermal wells takes a long time. Not many investors are interested in such long term invest.

Solar

* Solar cell and it components are expensive, so the Investment needed are high, although upon completion the operational costs are very low.
* National Industry has not produced any solar panel or solar panel components.
* Research of Solar power is very little.

Wind energy

* The current windmill technology and the common generator still need to be adapted for Indonesia natural environment.
* The average wind speed in Indonesia is only 5 m / sec (only some regions in the eastern Indonesia have high wind speed), so it is necessary to develop research in creating low-speed windmill.

Nuclear energy

* Nuclear power plant construction and it components are expensive, so the investment needed is high.
* National Industry has not produced any nuclear plant components. Almost 80% of the components need to be imported.
* People still couldn’t accept nuclear power as energy supply because the fear in radiation hazards and waste.

Water power

* In some areas, the range of river debit fluctuation between dry season and rainy season is too wide so the power isn’t stable.
* We need to develop technology according to Indonesia climate condition.

To overcome all of these problems, we need to make approaches that can overcome this energy supply problem. High investment in energy plant makes the growth of the energy plant still small. Making policies that could encourage investors to invest in energy sector will increase growth of energy plant. For example, like giving fiscal incentive and subsidy to investor. The increasing growth of energy plant will have possitive effect on stabilization of energy supply. The stability of energy supply could increase the productivity of its people and this in return will provide a positive impact on the welfare of it people.

The policy must be supported by the development of technology. National industry has a major role in this problem. Imported component will increase the value of investment needed and the growth rate of energy plant will diminish. For that reason, the government needs to assist the development of technology by creating a new industry for energy plant components, so not only we could increase the growth rate of power plant but we could also provide new job opportunities. This way, not only it will stabilize the energy supply but also reduce the unemployment rate.

We also need to provide technology socialization. Most of Indonesian people can not accept new technology even though it increases access and ease in energy supply. Nuclear power is the easiest example. Because of less information about the waste management and the radiation hazard, people still object the use of nuclear power as an energy supply. They are afraid that their environment will be polluted by the waste and the radiation. This condition resulted in the fact that there is no development in nuclear power as an alternative source of energy supply so far in Indonesia. Another example is in the use of high voltage grid (sutet). At the first time it is introduced, there were many objections as people were afraid of its side effects. Because of that, the socialization of new energy resources for all people needs to be encouraged.

We can conclude that having a big resource of energy is not the key to secure our energy supply. The key to secure energy supply is developing technology to use every energy resource, creating policies that could encourage energy plant growth, and the socialization of this technology to the community. With these key we could achieve the stability of energy supply.

Written by : Faddy Ardian
Sumber : www.kamase.org

READ MORE - Problem of Indonesia Renewable Energy Development
Template Design by faris vio